Berlomba Mendapatkan Ijazah Kesetaraan

Sekolah, lalu mendapatkan ijazah akan menjadi kebutuhan yang tidak bisa terelakkan saat ini. Ke mana dan di mana saja mencari pekerjaan pertama sekali diminta adalah tanda lulus bertabur nilai-nilai fantastis. Memang, wajib belajar sudah dicanangkan pemerintah selama sembilan tahun, artinya setiap individu di negara berlambang burung Garuda ini mau tidak mau harus mendapatkan pendidikan layak tersebut. Cara yang dicapai, mulai dari kesadaran orang tua mengantarkan anak-anak mereka ke sekolah juga dengan kemauan sang anak untuk berpendidikan tinggi. Menghilangkan buta huruf selayaknya bukan lagi suatu penyakit yang mesti dihindari. Setiap pelosok hampir semua orang bisa baca tulis. Walaupun mereka yang tua renta tersebut tidak mengenyam bangku pendidikan sampai sembilan tahun seperti yang sudah ditargetkan orang berkepentingan di negeri ini.

Sekolah formal, tentu akan mendapatkan ijazah setelah menempuh pendidikan enam tahun untuk dasar, tiga tahun untuk menengah pertama dan atas. Selain itu sekolah formal yang berseragam putih merah, putih hijau dan putih abu-abu tersebut membatasi umur sehingga tidak sembarang orang bisa dengan leluasa mendapatkan pembelajaran. Jika di tingkat dasar umur seorang anak tujuh tahun saat penerimaan maka pada menengah pertama dan atas tidak lebih dari dua puluh tahun.

Hal ini tentu berbeda dengan sekolah nonformal. Demi memberantas kebodohan dan menghapus buta huruf tersebut, akhirnya pemerintah mencanangkan progam pendidikan nonformal yang selanjutnya bisa memegang dan menyimpan ijazah kesetaraan.

Siapa saja yang bisa mendapatkan ijazah kesetaraan ini? Setiap warga negara beragam suku dan agama ini berhak mengikuti program kesetaraan. Mulai dari ijazah Paket A untuk dasar, Paket B untuk menengah pertama dan Paket C untuk menengah atas. Berbeda dengan sekolah formal yang memberi patokan umur, sekolah nonformal tidak membatasi masyarakat yang ingin mendapatkan ijazah kesetaraan ini.

Ada dua jalur yang bisa diikuti untuk mendapatkan ijazah kesetaraan, yaitu Dinas Pendidikan dan Kementerian Agama. Kedua lembaga ini memiliki peranan penting dalam memberikan sekolah nonformal yang diselenggarakan di kampung-kampung dan pondok pesantren. Pembelajaran yang dilakukan oleh sekolah nonformal ini jauh sekali berbeda dengan sekolah formal. Proses belajar mengajar berlangsung tidak setiap hari dan hanya di sore hari. Waktu yang diperlukan juga tidak banyak, mengingat siswa sekolah nonformal yang pada dasarnya bukan lagi termasuk usia sekolah sebenarnya.

Kebanyakan siswa sekolah nonformal berusia di atas dua puluh tahun. Duduk di bangku sekolah dua kali seminggu dan hanya dua jam pelajaran setelah seharian bekerja. Tak sedikit dari mereka sudah menikah dan berkeluarga. Alasan sekolah kembali karena membutuhkan ijazah. Nah, itu dia yang menarik dari sekian alasan yang dikemukakan oleh siswa-siswa berkumis tebal dan suara bariton ini. Menghabiskan waktu lebih kurang dua jam hanya untuk menandatangani absensi kehadiran semata.

Mungkin Anda akan tertawa, bahkan mungkin mengejek. Kenapa baru sekarang terbangun dari mimpi panjang dan membutuhkan ijazah? Jika kita melihat tujuan pemerintah dalam memberantas buta huruf, ada kalanya hal itu tersingkirkan mengingat tujuan dari calon penerima ijazah bukan karena hal tersebut.

Terlambat bangun dari mimpi panjang tidak dipersoalkan dari pada tidak bangun-bangun dan terus terbuai mimpi tak berujung. Kesadaran akan pentingnya ijazah begitu palu keputusan diketuk, mengatakan bahwa setiap individu yang ingin mencalonkan diri jadi pejabat, aparatur desa dan lain sebagainya, harus ada ijazah minimal menengah atas!

Kalang kabutlah para pendamba jabatan di kampung-kampung. Jika dulu mereka adem ayem saja duduk di bangku calon lurah tanpa ijazah kini pontang panting mendapatkan ijazah. Salah satunya dengan ikut program kesetaraan yang sebenarnya untuk mereka-mereka yang putus sekolah dan buta huruf.

Efektif ataupun tidak jalan yang ditempuh pemerintah dengan ‘membagi-bagikan ijazah’ ini tergantung cara pandang masing-masing. Satu sisi ada pihak yang diuntungkan yaitu mereka yang ingin menjadi pejabat baik di kampung, maupun di kota besar. Terlepas setelah dipilih mereka mau belajar atau hanya mengandalkan ijazah kesetaraan semata.

Pandangan lain, sebagian diuntungkan, yaitu orang tua yang membujuk sampai memaksa anak-anak mereka untuk bersekolah agar tidak ‘bodoh’ dan mendapatkan ijazah kesetaraan.

Namun kita akan miris mendengar bahwa ijazah kesetaraan seakan hanya dibagi-bagi begitu saja tanpa evaluasi yang lebih dalam dari pemerintah. Jika hanya ijazah kesetaraan begitu mudah untuk mendapatkannya, tidak perlu lagi ada Ujian Nasional. Tidak lulus di Ujian Nasional bisa bebas ikut ujian kesetaraan dan kemudian mendapatkan ijazah kesetaraan, bahkan sebagian universitas menerima ijazah kesetaraan ini. Dengan begitu, pemerintah kita seperti lempar batu tanpa menyembunyikan tangan. Siapa saja bisa melihat setelah Ujian Nasional dilempar ke sekolah-sekolah formal, ujian kesetaraan juga ikut diselenggarakan oleh lembaga yang sama, keduanya milik pemerintah, Dinas Pendidikan dan Kementerian Agama.

Serius atau tidak pemerintah dalam memberantas buta huruf melalui pemberian ijazah kesetaraan, tentu menjadi tanda tanya besar. Di mana saat hampir seluruh masyarakat negeri kaya hasil bumi ini bisa membedakan huruf-huruf abjad. Dan tidak bisa dipungkiri hampir semua rumah teraliri listrik dengan televisi menyala menayangkan sinetron berbahasa Indonesia! 

 

 

sumber :bairuindra.blogdetik.com

Iklan

Inilah Undian Grup Liga Europa 2012/2013

Setelah merampungkan babak play-off dinihari kemarin, Liga Europa memasuki babak penyisihan grup. Berikut adalah hasil pengundiannya yang dilakukan di Monaco.

Dari hasil pengundian, klub-klub besar seperti Liverpool dan Inter Milan bergabung di grup yang relatif mudah. Liverpool, yang dinihari kemarin ditahan imbang Hearts 1-1, berada di Grup A bersama Udinese, Young Boys dan Anzhi.

Liverpool memiliki segudang pengalaman di kompetisi Eropa. Ketiga lawannya harusnya tidak menghalangi Steven Gerrard cs melaju ke putaran selanjutnya.

Namun, mereka tetap harus mewaspadai Udinese, yang impiannya ke Liga Champions kandas usai dikalahkan Braga dalam adu penalti. Anzhi juga menjadi ancaman. Klub kaya asal Rusia itu memiliki penyerang haus gol Samuel Eto’o.

Inter Milan mungkin sedikit lebih mudah dibandingkan Liverpool. Mereka berada di Grup H bersama Rubin Kazan, Partizan Belgrade dan Neftci. Di atas kertas anak asuhan Andrea Stramaccioni itu tidak akan menemui kesulitan.

Wakil Liga Primer lainnya, Tottenham Hotspur berada di Grup J bersama Panathinaikos, Lazio dan Maribor. Juara bertahan Liga Europa, Atletico Madrid, berada di Grup B bersama Hapoel Tel-Aviv, Victoria Plzen dan Academica.[yob]

Berikut pembagian grup Liga Europa selengkapnya:

Grup A
Liverpool
Udinese
Young Boys
Anzhi Makhachkala

Grup B
Atletico Madrid
Hapoel Tel Aviv
Viktoria Plzen
Academica Coimbra

Grup C
Olympique Marseille
Fenerbahce
Borussia Moenchengladbach
AEL Limassol

Grup D
Girondins Bordeaux
Club Bruges
Newcastle United
Maritimo

Grup E
VfB Stuttgart
FC Copenhagen
Steaua Bucharest
Molde

Grup F
PSV Eindhoven
Napoli
Dnipro Dnipropetrovsk
AIK Stockholm

Grup G
Sporting Lisbon
Basel
Genk
Videoton

Grup H
Inter Milan
Rubin Kazan
Partizan Belgrade
Nefti PFK

Grup I
Olympique Lyon
Athletic Bilbao
Sparta Prague
Hapoel Kiryat Shmona

Grup J
Tottenham Hotspur
Panathinaikos
Lazio
Maribor

Grup K
Bayer Leverkusen
Metalist Kharkiv
Rosenborg Trondheim
Rapid Vienna

Grup L
Twente Enschede
Hanover 96
Levante
Helsingborgs