Status di Facebook Picu Wanita Stres

lkjhgffd

ppppp

Banyak hal yang bisa dilakukan di situs jejaring seperti Facebook dan Twitter. Salah satunya dengan meng-update status. Fitur satu ini memang bisa membuat Anda aktif dan terhubung dengan banyak teman.

Masalahnya, mengganti status di Facebook atau situs jejaring lainnya bisa membuat wanita rentan stres. Mengapa? Ternyata wanita cenderung berpikir keras saat ingin membuat status yang menarik untuk dikomentari.

Sebuah survey di Australia menunjukkan, 69 persen dari 420 warga negara Australia mengatakan bahwa mereka berpikir keras ketika mengganti status mereka.

Survey yang dilakukan lembaga penelitian Galaxy Australia itu, mengatakan bahwa media jejaring sosial punya kotribusi besar sebagai pemicu stres penggunanya. Sebanyak 63 persen rensponden mengakui hal tersebut.

Stres juga dialami 13 persen responden yang hendak mengganti status mereka sehingga terlihat cerdas ketika dibaca orang lain.

“Ada sedikit tekanan untuk memiliki status unik membuat orang tertawa dan menyukai status saya,” kata Nikkita Venville, Mahasiswi Fakultas Hukum La Trobe Univesity, seperti yang dikutip dari indiantimes.com

Selain disibukkan dengan membuat status menarik, responden juga merasa aneh jika tidak melihat pesan masuk di Facebook, atau membalas pesan secara teratur. Tak heran jika jejaring sosial dapat membuat seseorang menghabiskan begitu banyak waktu di dunia maya.

Aksi Earth Hour Malam Ini di Berbagai Negara

mkijhhh

aaaaaaa

Ratusan ribu warga dunia akan mematikan lampunya selama satu jam malam ini, Sabtu, 26 Maret 2011, pada aksi yang dinamakan Earth Hour. Aksi ini bertujuan untuk memberikan pemahaman dan kesadaran cinta lingkungan serta hemat energi.

Dilansir dari laman The Age, ratusan ribu orang dari 132 negara dan wilayah, mulai dari Pasifik, Australia, Asia, Eropa, Afrika dan Amerika akan mematikan lampunya malam ini.

Beberapa monumen dunia, seperti menara Eiffel di Prancis, menara Burj Khalifa di Dubai, Gedung Empire State Building di Amerika Serikat, sampai Monumen Nasional akan mematikan semua aliran listriknya selama satu jam.

Manajer proyek Earth Hour Australia, Marni Ryan, mengatakan bahwa Earth Hour kali ini akan diikuti lebih banyak orang dari tahun-tahun sebelumnya. Dia mengatakan bahwa berbagai bencana alam telah membuat kesadaran masyarakat untuk cinta lingkungan menjadi lebih besar.

“Terdapat pergerakan akar rumput pada Earth Hour tahun ini yang disebabkan oleh berbagai bencana, mereka mengatakan ‘kami benar-benar peduli pada planet ini, kami ingin melakukan sesuatu,” ujar Ryan.

Dia juga mengatakan bahwa bencana membuat masyarakat menjadi sadar betapa rapuhnya planet sekarang ini.

“Dengan berpartisipasi dengan Earth Hour, warga di seluruh dunia seakan mengatakan ‘ya kami peduli pada lingkungan dan kami ingin perubahan’, ini adalah pesan untuk pemerintah dan pebisnis di seluruh dunia,” ujarnya.

Pertama kali dimulai dan dikampanyekan oleh WWF pada 2007, Earth Hour setiap tahunnya mengundang banyak warga untuk peduli. Karena aksi ini, puluhan megawatt listrik berhasil dihemat. Akibatnya, lebih sedikit karbondioksida yang dikeluarkan ke udara. Hal ini dinilai sangat baik bagi kelangsungan bumi kita.

Negara pertama yang akan mematikan lampunya malam ini adalah Fiji, kemudian pulau Chatham, Selandia Baru, lalu diikuti oleh berbagai negara lainnya dari timur ke barat.

Bulan Dekati Bumi 19 Maret, Pertanda Bencana?

Dongakkan kepala Anda ke arah langit malam, Sabtu 19 Maret 2011 mendatang. Jika mendung tidak menggantung, akan terlihat penampakan Bulan lain dengan biasanya.

Satelit Bumi itu akan nampak lebih besar. Di malam itu, Bulan akan berada dalam jarak terdekat dengan Bumi sejak tahun 1993, 18 tahun yang lalu. Fenomena ini disebut ‘lunar perigee’. Sementara, ada astrolog yang menyebutnya ‘SuperMoon’.

Penampakan Bulan malam itu akan sangat menarik untuk difoto. Tapi, sejumlah astronom meramalkan, kejadian itu mengkhawatirkan, karena akan mempengaruhi pola iklim di Bumi. Sebagian orang menghubung-hubungkan lunar perigee itu dengan bencana, seperti gempa.

Apa kata ilmuwan? “Tak akan ada gempa bumi atau gunung meletus,” kata Pete Wheeler dari International Centre for Radio Astronomy, seperti dimuat News.com.au, Jumat 4 Maret 2011. “Kalau memang itu terjadi, itu sudah ditakdirkan.”

Kata dia, saat itu, Bumi memang akan mengalami pasang lebih tinggi, dan surut lebih rendah dari biasanya. “Tak ada yang perlu dikhawatirkan,” tambah Wheeler.

Untuk diketahui, sejumlah bencana di Bumi terjadi saat fenomena lunar perigee atau saat jarak antara Bumi dan Bulan dekat. Misalnya, badai New England pada 1938, atau banjir di Lembah Hunter pada 1955.

Meski tidak terjadi dalam periode itu, bencana Siklon Tracy pada 1974 dan badai Katrina pada 2005 juga terkait SuperMoon.

Mengamini pendapat Wheeler, astronom sekaligus dosen, David Reneke mengatakan, terlalu jauh untuk menghubungkan fenomena itu dengan bencana alam. “Kalau mau, Anda bisa saja menghubung-hubungkan hampir semua bencana alam yang terjadi dengan apa yang terlihat di langit malam — komet, planet, matahari,” kata Reneke.

Sementara, ilmuwan Bumi dan Planet dari Adelaide University, Dr Victor Gostin mengatakan, prediksi cuaca, gempa, gunung meletus, dan bencana alam lainnya berdasarkan konfigurasi planet, tidak pernah sukses.

Namun, memang dimungkinkan ada korelasi antara gempa bumi berskala besar di dekat katulistiwa dan Bulan — kala baru, atau purnama.

“Analoginya seperti pasang surut air laut, pergerakan Bumi akibat gravitas Bulan bisa memicu gempa bumi.”

monabulan